Catatan Sang Penulis Skenario
Satu minggu, dua
minggu, lalu tiga minggu. Ya, ini minggu ke tiga di bulan Agustus yang super
panas. Semua orang pasti ingin menghabiskan waktunya untuk duduk-duduk santai
di depan televisi, memilih acara televisi yang disuka. Membaca majalah atau
buku-buku fiksi ditemani segelas jus segar. Menyenangkan, tapi hal itu tidak
dialami Shena.
Shena bukan
gadis yang suka menghabiskan waktu untuk jalan-jalan, berbelanja, makan bersama
teman, apalagi travelling ke daerah
asing. Asing, bisa diartikan aneh, baru, atau belum pernah dikunjungi sama
sekali. Shena selalu menghabiskan waktunya di depan komputer. Mengetik skenario
yang dipesan produser atau membuat tulisan-tulisan tidak jelas.
Hari ini Shena
harus menemui produser unutk menyerahkan naskah yang baru ia selesaikan. Sang
produser meminta Shena membuat skenario untuk film bertema ‘Budaya dan Aksi
Etnik’. Karena produser satu ini sangat menyukai karya-karya Shena, ia yakin
bahwa Shena akan membuatnya kagum dengan skenario kali ini.
“Ini skenario
yang anda minta, Pak.” Ucap Shena lalu menyerahkan skenarionya.
“Oh, saya sudah
lama menunggu. Saya senang akhirnya kamu menemui saya. Silahkan duduk dulu,
saya akan membacanya dahulu.” Balas sang produser.
Selama 15 menit,
sang produser membaca skenario itu dalam diam. Wajah yang tertutup kertas
skenario membuat Shena tidak tahu apa yang sedang dipikirkan sang produser. Ia
mulai bingung dan khawatir.
Akhirnya, sang
produser selesai membacanya. Terlihat sedikit kekecewaan dalam raut wajah
produser. Shena mulai khawatir. Tiba-tiba sekretaris sang produser itu datang
lalu membuka pintu. “Pak ada yang ingin menemui anda,” kata sekretaris yang
biasa disapa Lis. Lalu, sang produser pamit untuk menemui tamunya itu.
Shena mulai
berpikir dengan keras. Selama ini, karyanya belum pernah ditolak oleh produser
mana pun. Sedih dan gelisah. Ia menyalahkan dirinya dan mencoba mengevaluasi
ulang, apa kesalahan yang telah ia buat dalam tulisannya itu. “Aku rasa aku
tidak salah. Semuanya sangat bagus. Pemilihan kata, ide, tempat, suasana,
dialog, dan semua yang penting sudah aku sesuaikan. Apa yang salah?” ia
berkali-kali mengatakan itu.
“Maaf, saya
sudah membuat kamu menunggu lama. Jujur saya kecewa dengan tulisan kamu ini.
Saya mengharapkan cerita yang benar-benar menggambarkan keragaman dari budaya
dan etnis. Lalu harusnya kamu menggabungkannya dengan aksi-aksi yang
menegangkan melalui konflik yang timbul pada mereka,” terang sang produser
dengan tegas dan bersemangat. Ia juga menegaskan beberapa hal yang ia inginkan
dalam skenario itu dengan gerakan-gerakan lucu.
“Tetapi, saya
tidak menemukan suatu kekurangan dalam artikel saya, Pak. Saya menulis itu
dengan referensi yang terpercaya. Saya juga detail dalam menuliskan setiap
kejadian dan menggambarkan suasana dengan baik.” Bantah Shena dan menerangkan
ulang setiap detail yang ia tulis dengan menggambar diatas secarik kertas HVS
ukuran A4.
Produser dan
Shena saling berdebat dalam intelegensi dan imajinasi. Mereka berdiskusi tetapi
berdebat dan bertukar pikiran. Shena menggambar dan produser melakukan
gerakan-gerakan lucu yang sangat aneh.
“Baiklah-baik.
Saya tidak akan menolak karya kamu ini. Satu hal yang saya inginkan kali ini.
Kamu, harus menyempurnakan ulang skenario ini. saya beri kamu waktu satu bulan.
Saya akan hubungi kamu dalam 3 hari untuk mengkonfirmasi caranya.” Ucap
produser itu. Sangat idealis kelihatannya, tetapi itulah yang dibutuhkan
seniman sejati. Apalagi di dunia pertunjukan.
Shena menanti
dengan sabar sampai hari ke-3. Sambil menunggu, ia mencari referensi lagi.
Tempat, tentang kebudayaan dan bahkan baju adat. Gadis ini sudah frustasi
dengan perasaan bersalah. “Apa yang salah? Aku tidak merasa ada yang salah
dengan skenarioku. Dasar bodoh!” teriaknya pada dirinya sendiri.
Sudah
3 hari, Shena makin frustasi. Ia takut kalau permintaan sang produser kelewat
batas kemampuannya. Ia mengutuki diri sendiri. Tiba-tiba telepon genggamnya
berbunyi. “Mati aku!” rasa cemas muncul pada gadis ini. Ia pun mengangkat
telepon.
“Halo,
selamat pagi.” Ucapnya serak-serak basah. Terdengar jelas nada suaranya biasa
saja, tetapi sebenarnya gadis ini khawatir.
“Shena,
saya harap kamu tidak terganggu karena saya menelepon sepagi ini. Begini Shen,
saya telah...” Sang produser menjelaskan panjang-lebar tentang segala upaya
yang ia lakukan untuk mempertahankan skenario Shena. “Saya harap, kamu akan
memenuhi permintaan saya. Saya sudah berdiskusi dengan sponsor kami, mereka
tidak keberatan untuk membiayainya,” Shena yang mendengar permintaan ini
melongo dengan sangat. Ia tidak tahu bagaimana dan apa yang harus ia katakan.
“Shena,
kamu berangkat hari Sabtu. Pegawai saya akan mengantarkan tiketnya ke rumahmu.
Senang sekali bisa bekerja sama dengan kamu. Saya harap skenario kamu akan
menjadi film yang populer.” Itu akhir dari perbincangan sang produser dengan
Shena. Shena hanya menurut saja. Ia tidak bisa menolak. Padahal ia tidak suka
bepergian. Apa lagi ke 5 daerah yang tidak pernah sama sekali ia bayangkan.
“Sabar... sabar, Shen. Jalani saja, ini sudah resiko,” ucapnya pada diri
sendiri.
Sabtu, 24 Agustus 2013
Hari ini aku berangkat naik Garuda dari
Bandar Udara Soekarno-Hatta. Tempat pertama yang aku kunjungi ialah Papua. Aku
tidak tahu apa yang akan terjadi di sana. Aku takut, kalau nanti mereka tidak
menerima kehadiranku. Tuhan tolong aku, aku takut sekali berada di tempat
asing.
“Mbak,
15 menit lagi pesawat akan berangkat. Mohon anda segera masuk ke dalam
pesawat.” Pinta seorang pramugara yang bertugas unutk menjaga pintu masuk.
Shena bergegas masuk dan mengangkat travel
bag yang ia bawa. Ia membawa dua travel
bag saat itu. Walaupun berat, tetapi demi keselamatan ia harus membawa
banyak barang.
Selama
di perjalanan, Shena tertidur pulas. Ia tidak mau tahu bagaimana pesawat
berangkat. Seorang pegawai dari sang produser menemaninya selama bepergian.
Namanya Doni, ia pegawai kepercayaan sang produser. Shena juga ditemani oleh
pendamping lainnya. Seorang petualang yang sering bepergian kemana saja.
Namanya Panji, ia sengaja di sewa unutk menemani Shena. Shena juga mengajak
temannya Linda unutk menemaninya bepergian. Linda jago dalam hal mengambil gambar.
Karena itulah Shena mengajak Linda bersamanya.
“Shen,
sudah sampai ini. Bangunlah, kita harus bergegas untuk pergi. Setelah ini kita
harus naik angkutan umum untuk sampai ke Lembah Baliem.” Ucap Linda. Dengan
malasnya, Shena bergegas untuk mengambil barangnya.
Selama
di perjalanan menuju tempat suku Dani, mereka memperbincangkan banyak hal.
Mereka belum saling kenal satu sama lain. “Saya Panji. Saya akan memandu selama
berada di Papua. Mereka saling berkenalan, bercanda dan tertawa selama
perjalanan dari bandara menuju ke lembah baliem.
Senin, 26 Agustus 2013
Ini
hari kedua aku di Papua. Aku memang tidak mengerti bahasa yang mereka gunakan.
Mereka banyak menggunakan bahasa daerahnya, bahkan pada orang asing seperti
aku. Bersyukur sekali karena ada Panji, Linda, dan Doni. Aku merasa tidak
kesepian.
Aku makan jagung di sini. Mereka
jarang makan nasi karena beras mahal. Bahkan, aku diajari membuat Papeda.
Papeda merupakan makanan sehari-hari mereka. Bentuknya yang seperti lem kertas
awalnya membuatku jijik. Tapi rasanya enak.
Aku merasa sangat bersalah karena
berpikiran yang muluk-muluk tentang orang-orang ini. Di Lembag Baliem ini, aku
dianggap sebagai seorang teman. Mereka berusaha untuk berkomunkasi denganku.
Aku juga diajak untuk bermain.
Selama
berada di Lembah Baliem, Shena tidak dipaksa unutk mengenakan baju adat mereka.
Awalnya, ia berpikir, ia akan mengenakan cawat, tetapi masyarakat di daerah ini
sudah tahu bahwa tidak semua orang menyukai atau terbiasa dengan pakaian
seperti ini.
Kamis, 29 Agustus 2013
Besok aku dan teman-teman akan pergi dari
Lembah Baliem ke tempat selanjutnya. Aku akan mempersiapkan hadiah untuk
beberapa orang yang ada di sini. Aku menyayangi mereka, aku harap bisa sering-sering main ke sini.
Selama ini, aku hanya menghabiskan
waktuku di depan komputer atau dengan buku dan televisi.Belum pernah sekalipun
aku menghabiskan waktu unutk bekerja di luar ruang. Biasanya, aku hanya
menyuruh pembantuku untuk melakukannya. Tetapi, kali ini aku merasakan
bagaimana rasanya bekerja di kebun dengan tanah yang tidak terlalu bagus.
Aku mengucap syukur Tuhan, karena
selama di sini aku mendapat banyak pengalaman. Mempelajari bahasa mereka dan
mengenal mereka. Walau awalnya aku berpikir karena koteka dan cawat yang mereka
gunakan sehari-hari itu sangat tidak beradab, tapi aku berubah pikiran kali
ini. Mereka menggunakannya karena itu adat. Itu budaya mereka.
Siang
harinya tanggal 30 Agustus, Shena meninggalkan Lembah Baliem bersama
teman-temannya. Mereka menaiki angkutan umum. Warga yang ada di Lembah Baliem
itu mengikuti mereka dari belakang, mereka melambai-lambai dengan sukacita.
Memperlihatkan barisan gigi putih di antara kulit hitam gelap mereka.
Sebelum
Shena dan teman-temannya pergi, mereka diberi bekal. Kepala desa memberikan setengah
kilogram biji jagung. Beberapa warga membawakan buah-buahan, sagu, bahkan
membawakan papeda dengan ikan bumbu kuning.
“Panji,
terima kasih ya. Selama kami di Papua, kamu sudah menjadi pemandu yang baik.
Oya, saya belum tahu mengapa kamu mau menjadi pemandu di Papua ini? Kamu juga
mahir berbahasa suku Dani.” Tanya Shena. Panji hanya tersenyum. Tidak menjawab
apapun. Linda yang penasaran, juga bertanya “Iya loh, Ji. Kan wisatawan di sini
tidak banyak. Mengapa kamu mau?” pertanyaan kedua ini dihiraukan oleh Panji.
“Aku orang asli suku Dani. Memang kalian kaget, karena kulitku tidak segelap
mereka. Aku hanya ingin semua orang mengenal sukuku dengan baik, bukan
melecehkan mereka sebagai suku yang tidak beradab hanya karena mereka tidak
menggunakan baju seperti kita.”
Senin, 2 September 2013
Setelah berpisah dengan pemandu yang
menggagumkan itu, aku mulai menyadari. Pengorbanan sebagai anak suku pedalaman
memang luar biasa besar. Mereka tidak mau suku mereka dilecehkan. Aku memahami
hal itu. Bila aku di posisinya, mungkin aku akan melakukan hal yang sama.
Hari ini, setelah aku sampai di Kalimantan,
aku harus melanjutkan perjalanan ke sungai Barito. Perjalananku kali ini, aku
akan tinggal di rumah orang suku Dayak. Aku harap mereka ramah, karena aku
dengar orang Kalimantan itu keras.
Rabu, 4 September 2013
Ternyata, mereka sangat ramah. Aku diajak
untuk mencari ikan di sungai. Mereka mencari ikan dengan tombak. Seperti orang
gua saja. Tapi, menyenangkan sekali. Aku dan Linda tidak bisa menangkap ikan
dengan tombak. Hal itu sangat aneh.
Aku kagum pada Doni. Dia hebat
sekali menggunakan tombak itu. Aku sampai pangling dibuatnya. Dia bisa
menombaki 2 ikan sekaligus. Hal yang tidak
bisa aku lakukan. Mungkin dia ada keturunan orang Dayak.
Pengalaman
menangkap ikan sangat menarik bagi Shena. Ia berusaha terus untuk menombak
ikan. Memang tidak bisa seperti Doni, mendapat 2 ikan sekali tangkap. Tetapi,
sudah bagus kalau ia bisa menangkap satu ikan saja sekali tombak. Hatinya
sangat senag sekali dengan ikan tangkapannya itu.
Selama
beberapa hari, mereka makan ikan bakar dengan keluarga kepala desa. Shena
membantu memasak, Linda mengupas bumbu-bumbu yang diperlukan. Selama di sana,
mereka seperti jadi anak perempuan di keluarga itu. Shena semakin betah berada
di sana.
Jumat, 6 September 2013
Hari ini aku membantu istri kepala
desa unutk memasak bari atau beras. Bari dimasak dengan mempergunakan kenceng
atau kukusan yang terbuat dari rotan atau bambu atau dibuat ketupat. Tapi kali
ini hanya dimasak biasa dengan bambu. Kamu memasaknya di tungku.
Aku tidak pernah memasak menggunakan
tungku. Istri kepala desa-lah yang menyalakan tungku itu. Aku yang menjaga
apinya supaya tetap menyala. Aku menghembuskan angin dari mulutku melalui
bambu. Setelah itu, aku memperhatikan wajahku di cermin. Kagetnya bukan main.
Hidungku menghitam kena abu. Satu rumah menertawai aku.
Hari itu di
rumah kepala desa ada acara syukuran. Istrinya memasak Juhu Dawen Sarentak. Itu
adalah sayur kacang panjang yang dimasak dengan kuah. Lalu istri kepala desa
itu juga membuat ikan kuah santan yang gurih. Hari itu semua sangat berbahagia.
Shena yang beragama Kristen tidak keberatan untuk mengikuti serangkaian acara
syukuran keluarga pak kepala desa yang muslim. Mereka saling bertoleransi dan
menghargai.
Selasa, 10 September 2013
Hari ini aku sampai di Madura. Kali ini,
Linda yang akan menjadi pemandu kami. Berhubung ia orang madura dan ia sangat
mengenal daerah-daerah di pulau yang bersebrangan dengan kota Surabaya.
Kali ini kami tinggal di Bangkalan.
Di sana orang tua Linda tinggal. Linda memang bukan orang kaya, tetapi ia
senang sekali bila kami mau menginap di rumahnya. Jadi kami memutuskan unutk
memenuhi permintaannya.
Sesampainya
di rumah orang tua Linda, mereka langsung disambut dengan bahasa Madura yang
lucu sekali. “Loh, Linda ini sama siapa ta’iye?” ucap ayah Linda. Shena dan
Doni menahan tawa mendengar logat yang seperti orang terbatah-batah itu. “Hey,
kalian harus sopan. Kalau kalian tertawa bapak akan sangat tersinggung.” Ucap Linda
pada kedua temannya itu.
Kamis 12 September 2013
Beruntung sekali kami tinggal di rumah
keluarga Linda. Aku memang selalu geli setiap mendengar percakapan kedua
orangtua linda dengan Linda. Logat dan bahasa mereka unik. Berapa saja dibilang
berempak.
Ada lagi hal lucu lainnya. Saat kami
membantu sang ayah untuk mengangkat barang-barang ayahnya yang akan dikirim ke
Surabaya aku mendengar ayahnya berkata bahwa pohon itu warnanya biru. Awalnya,
aku kira ayahnya buta warna. Tetapi, di Madura memang seperti itu. Warna hijau
akan dikata biru dan sebaliknya. Hal ini karena sudah dibiasakan dari kecil.
Di pelabuhan itu, aku melihat
pekerja ayahnya dengan kagum luar biasa. Mereka bekerja dengan sangat cepat.
Aku sempat berpikir kalau mereka adalah orang-orang super yang memang khusus
ditakdirkan sebagai orang Madura. Bekerja dengan cepat. Aku juga memperhatikan betapa
tempramentalnya mereka. Sedikit kata yang menyinggung saja bisa berujung
perkelahian.
Jumat, 13 September 2013
Senang sekali rasanya aku bisa terlepas dari
rasa tertekanku selama di Pulau Madura. Walaupun mereka ramah, tetapi aku bisa
stress kalau berada di tengah-tengah orang yang tempramen seperti mereka.
Hari ini, aku dan teman-teman akan
melanjutkan perjalanan ke Surabaya. Tetapi, sebelum kami pergi, ayah dan ibu
Linda mengajak kami makan soto dan sate khas Madura. Ibunya sendiri yang membuatnya.
Rasanya tidak kalah dengan restoran
bintang lima.
Perjalanan
mereka dilanjutkan dari Surabaya ke Sumatra Barat. Mereka berangkat dari Bandar
Udara Juanda menuju Bandar Udara Minangkabau di Padang. Baru mereka akan
melanjutkan perjalanan ke tempat selanjutnya.
“Shen,
Lin, bagaimana kalau kalian tinggal di rumah pamanku saja. Dia tinggal di
daerah yang sangat kentara kebudayaan Minang. Tidak jauh dari sini. Mungkin
kita butuh 6 jam perjalanan naik mobil angkutan. Bagaimana?” Doni menawarkan
diri untuk mengunjungi rumahnya. Sekarang, tidak ada pilihan lagi selain
berkata, “Oke kalau begitu. Tapi kamu harus jadi pemandu kami selama di daerah
itu.”ucap Linda.
Senin, 16 September 2013
Hari ini, aku sampai di rumah pamannya Doni.
Kami memanggilnya Datuk. Pamannya memang salah satu orang yang dihormati di
kampung itu. Saat kami tiba pun, kami disambut dengan meriah. Lalu disuguhkan
berbagai makanan yang lezat.
Rabu, 18 September 2013
Aku merasa puas sekali. Banyak hal yang aku
lihat di kampung Doni yang unik dan baru. Aku tidak menyangka akan mendapatkan
pengalaman baru.
Di kampung Padang ini, aku menemukan
semua anak harus belajar bahasa arab. Tidak hanya bahasa, tetapi tulisannya juga.
Semuanya harus belajar, bahkan mata pelajarannya diwajibkan untuk non-muslim.
Ini menarik sekali.
Kampung Padang memang terdiri dari
orang-orang suku minang yang berbahasa Melayu. Aku belajar sedikit demi sedikit
berbahasa Melayu. Doni yang sangat mahir dalam berbahasa Melayu sedikit
menggejekku.
Aku dan bibi Doni memasak makanan
kesukaan Datuk Soleh. Rendang pedas. Rendang itu daging yang dimasak lama
sekali hingga bumbunya meresap sampai ke dalam dagingnya. Kata ‘Rendang’
sendiri punya arti masak.
Hari
itu, Datuk Soleh sedang makan sirih. Shena ditawari untuk makan sirih. Ia ingin
menolak karena tahu rasanya tidak enak. Tetapi karena sungkan, ia menerima
saja. “Ya Datuk boleh.” Ucap shena sungkan. “Wah, kamu makan sirih, Shen? Enak
kan, nanti bisa kamu buat sendiri.” Ucap Doni menggejek Shena.
Shena
kesal sekali atas ejekan Doni. Ia meminta Datuk untuk menyuruh Doni makan sirih
sama seperti dia. “Doni, sini dulu sebentar. Paman mau kamu juga makan sirih.
Masa laki-laki tidak mau makan sirih. Ayo ini dimakan.” Ucap Datuk. Akhirnya
Doni kena batunya juga. Ia makan sirih, dan Shena menertawainya dengan sangat.
Kamis, 19 September 2013
Puas dan lelah menghampiriku. Jam 9 pagi
tadi aku dan teman-teman harus kembali ke Jakarta. Kami harus kembali karena pekerjaan
sudah menumpuk. Naskah yang diminta oleh produser juga sedikit lagi selesai.
Datuk dan istrinya merasa senang
atas kehadiran kami di rumah mereka. kami juga merasa senang. Terutama aku.
Karena aku mendapatkan banyak sekali pengalaman dan cerita-cerita yang bisa aku
jadikan sebagai salah satu dari skenarioku. Aku merasa sangat beruntung dalam
keletihanku selama berhari-hari melakukan petualangan dadakan ini.
Sesampainya
di Jakarta, Shena langsung mendatangi produser. Ia menyerahkan skenario yang ia
buat selama perjalanan yang ia lakukan. Sang produser sangat senang karena
hasilnya lebih dari yang ia harapkan. Akhirnya, Shena diminta unutk memberi
judul film yang akan dibuat itu dengan ‘Catatan Sang Penulis Skenario’. Ia
merasa bangga atas karyanya yang satu ini. Ia belajar banyak hal tentak
kebudayaan dan mendapatkan cintanya yang juga berbeda ras. Shena orang Jogja,
dan Doni yang sekarang menjadi kekasihnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar