Senin, 13 Januari 2014

CERPEN: Catatan Sang Penulis Skenario

Catatan Sang Penulis Skenario

Satu minggu, dua minggu, lalu tiga minggu. Ya, ini minggu ke tiga di bulan Agustus yang super panas. Semua orang pasti ingin menghabiskan waktunya untuk duduk-duduk santai di depan televisi, memilih acara televisi yang disuka. Membaca majalah atau buku-buku fiksi ditemani segelas jus segar. Menyenangkan, tapi hal itu tidak dialami Shena.
Shena bukan gadis yang suka menghabiskan waktu untuk jalan-jalan, berbelanja, makan bersama teman, apalagi travelling ke daerah asing. Asing, bisa diartikan aneh, baru, atau belum pernah dikunjungi sama sekali. Shena selalu menghabiskan waktunya di depan komputer. Mengetik skenario yang dipesan produser atau membuat tulisan-tulisan tidak jelas.
Hari ini Shena harus menemui produser unutk menyerahkan naskah yang baru ia selesaikan. Sang produser meminta Shena membuat skenario untuk film bertema ‘Budaya dan Aksi Etnik’. Karena produser satu ini sangat menyukai karya-karya Shena, ia yakin bahwa Shena akan membuatnya kagum dengan skenario kali ini.
“Ini skenario yang anda minta, Pak.” Ucap Shena lalu menyerahkan skenarionya.
“Oh, saya sudah lama menunggu. Saya senang akhirnya kamu menemui saya. Silahkan duduk dulu, saya akan membacanya dahulu.” Balas sang produser.
Selama 15 menit, sang produser membaca skenario itu dalam diam. Wajah yang tertutup kertas skenario membuat Shena tidak tahu apa yang sedang dipikirkan sang produser. Ia mulai bingung dan khawatir.
Akhirnya, sang produser selesai membacanya. Terlihat sedikit kekecewaan dalam raut wajah produser. Shena mulai khawatir. Tiba-tiba sekretaris sang produser itu datang lalu membuka pintu. “Pak ada yang ingin menemui anda,” kata sekretaris yang biasa disapa Lis. Lalu, sang produser pamit untuk menemui tamunya itu.
Shena mulai berpikir dengan keras. Selama ini, karyanya belum pernah ditolak oleh produser mana pun. Sedih dan gelisah. Ia menyalahkan dirinya dan mencoba mengevaluasi ulang, apa kesalahan yang telah ia buat dalam tulisannya itu. “Aku rasa aku tidak salah. Semuanya sangat bagus. Pemilihan kata, ide, tempat, suasana, dialog, dan semua yang penting sudah aku sesuaikan. Apa yang salah?” ia berkali-kali mengatakan itu.
“Maaf, saya sudah membuat kamu menunggu lama. Jujur saya kecewa dengan tulisan kamu ini. Saya mengharapkan cerita yang benar-benar menggambarkan keragaman dari budaya dan etnis. Lalu harusnya kamu menggabungkannya dengan aksi-aksi yang menegangkan melalui konflik yang timbul pada mereka,” terang sang produser dengan tegas dan bersemangat. Ia juga menegaskan beberapa hal yang ia inginkan dalam skenario itu dengan gerakan-gerakan lucu.
“Tetapi, saya tidak menemukan suatu kekurangan dalam artikel saya, Pak. Saya menulis itu dengan referensi yang terpercaya. Saya juga detail dalam menuliskan setiap kejadian dan menggambarkan suasana dengan baik.” Bantah Shena dan menerangkan ulang setiap detail yang ia tulis dengan menggambar diatas secarik kertas HVS ukuran A4.
Produser dan Shena saling berdebat dalam intelegensi dan imajinasi. Mereka berdiskusi tetapi berdebat dan bertukar pikiran. Shena menggambar dan produser melakukan gerakan-gerakan lucu yang sangat aneh.
“Baiklah-baik. Saya tidak akan menolak karya kamu ini. Satu hal yang saya inginkan kali ini. Kamu, harus menyempurnakan ulang skenario ini. saya beri kamu waktu satu bulan. Saya akan hubungi kamu dalam 3 hari untuk mengkonfirmasi caranya.” Ucap produser itu. Sangat idealis kelihatannya, tetapi itulah yang dibutuhkan seniman sejati. Apalagi di dunia pertunjukan.
Shena menanti dengan sabar sampai hari ke-3. Sambil menunggu, ia mencari referensi lagi. Tempat, tentang kebudayaan dan bahkan baju adat. Gadis ini sudah frustasi dengan perasaan bersalah. “Apa yang salah? Aku tidak merasa ada yang salah dengan skenarioku. Dasar bodoh!” teriaknya pada dirinya sendiri.
            Sudah 3 hari, Shena makin frustasi. Ia takut kalau permintaan sang produser kelewat batas kemampuannya. Ia mengutuki diri sendiri. Tiba-tiba telepon genggamnya berbunyi. “Mati aku!” rasa cemas muncul pada gadis ini. Ia pun mengangkat telepon.
            “Halo, selamat pagi.” Ucapnya serak-serak basah. Terdengar jelas nada suaranya biasa saja, tetapi sebenarnya gadis ini khawatir.
            “Shena, saya harap kamu tidak terganggu karena saya menelepon sepagi ini. Begini Shen, saya telah...” Sang produser menjelaskan panjang-lebar tentang segala upaya yang ia lakukan untuk mempertahankan skenario Shena. “Saya harap, kamu akan memenuhi permintaan saya. Saya sudah berdiskusi dengan sponsor kami, mereka tidak keberatan untuk membiayainya,” Shena yang mendengar permintaan ini melongo dengan sangat. Ia tidak tahu bagaimana dan apa yang harus ia katakan.
            “Shena, kamu berangkat hari Sabtu. Pegawai saya akan mengantarkan tiketnya ke rumahmu. Senang sekali bisa bekerja sama dengan kamu. Saya harap skenario kamu akan menjadi film yang populer.” Itu akhir dari perbincangan sang produser dengan Shena. Shena hanya menurut saja. Ia tidak bisa menolak. Padahal ia tidak suka bepergian. Apa lagi ke 5 daerah yang tidak pernah sama sekali ia bayangkan. “Sabar... sabar, Shen. Jalani saja, ini sudah resiko,” ucapnya pada diri sendiri.
Sabtu, 24 Agustus 2013
            Hari ini aku berangkat naik Garuda dari Bandar Udara Soekarno-Hatta. Tempat pertama yang aku kunjungi ialah Papua. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi di sana. Aku takut, kalau nanti mereka tidak menerima kehadiranku. Tuhan tolong aku, aku takut sekali berada di tempat asing.
            “Mbak, 15 menit lagi pesawat akan berangkat. Mohon anda segera masuk ke dalam pesawat.” Pinta seorang pramugara yang bertugas unutk menjaga pintu masuk. Shena bergegas masuk dan mengangkat travel bag yang ia bawa. Ia membawa dua travel bag saat itu. Walaupun berat, tetapi demi keselamatan ia harus membawa banyak barang.
            Selama di perjalanan, Shena tertidur pulas. Ia tidak mau tahu bagaimana pesawat berangkat. Seorang pegawai dari sang produser menemaninya selama bepergian. Namanya Doni, ia pegawai kepercayaan sang produser. Shena juga ditemani oleh pendamping lainnya. Seorang petualang yang sering bepergian kemana saja. Namanya Panji, ia sengaja di sewa unutk menemani Shena. Shena juga mengajak temannya Linda unutk menemaninya bepergian. Linda jago dalam hal mengambil gambar. Karena itulah Shena mengajak Linda bersamanya.
            “Shen, sudah sampai ini. Bangunlah, kita harus bergegas untuk pergi. Setelah ini kita harus naik angkutan umum untuk sampai ke Lembah Baliem.” Ucap Linda. Dengan malasnya, Shena bergegas untuk mengambil barangnya.
            Selama di perjalanan menuju tempat suku Dani, mereka memperbincangkan banyak hal. Mereka belum saling kenal satu sama lain. “Saya Panji. Saya akan memandu selama berada di Papua. Mereka saling berkenalan, bercanda dan tertawa selama perjalanan dari bandara menuju ke lembah baliem.
Senin, 26 Agustus 2013
            Ini hari kedua aku di Papua. Aku memang tidak mengerti bahasa yang mereka gunakan. Mereka banyak menggunakan bahasa daerahnya, bahkan pada orang asing seperti aku. Bersyukur sekali karena ada Panji, Linda, dan Doni. Aku merasa tidak kesepian.
            Aku makan jagung di sini. Mereka jarang makan nasi karena beras mahal. Bahkan, aku diajari membuat Papeda. Papeda merupakan makanan sehari-hari mereka. Bentuknya yang seperti lem kertas awalnya membuatku jijik. Tapi rasanya enak.
            Aku merasa sangat bersalah karena berpikiran yang muluk-muluk tentang orang-orang ini. Di Lembag Baliem ini, aku dianggap sebagai seorang teman. Mereka berusaha untuk berkomunkasi denganku. Aku juga diajak untuk bermain.
            Selama berada di Lembah Baliem, Shena tidak dipaksa unutk mengenakan baju adat mereka. Awalnya, ia berpikir, ia akan mengenakan cawat, tetapi masyarakat di daerah ini sudah tahu bahwa tidak semua orang menyukai atau terbiasa dengan pakaian seperti ini.
Kamis, 29 Agustus 2013
            Besok aku dan teman-teman akan pergi dari Lembah Baliem ke tempat selanjutnya. Aku akan mempersiapkan hadiah untuk beberapa orang yang ada di sini. Aku menyayangi mereka, aku harap  bisa sering-sering main ke sini.
            Selama ini, aku hanya menghabiskan waktuku di depan komputer atau dengan buku dan televisi.Belum pernah sekalipun aku menghabiskan waktu unutk bekerja di luar ruang. Biasanya, aku hanya menyuruh pembantuku untuk melakukannya. Tetapi, kali ini aku merasakan bagaimana rasanya bekerja di kebun dengan tanah yang tidak terlalu bagus.
            Aku mengucap syukur Tuhan, karena selama di sini aku mendapat banyak pengalaman. Mempelajari bahasa mereka dan mengenal mereka. Walau awalnya aku berpikir karena koteka dan cawat yang mereka gunakan sehari-hari itu sangat tidak beradab, tapi aku berubah pikiran kali ini. Mereka menggunakannya karena itu adat. Itu budaya mereka.
            Siang harinya tanggal 30 Agustus, Shena meninggalkan Lembah Baliem bersama teman-temannya. Mereka menaiki angkutan umum. Warga yang ada di Lembah Baliem itu mengikuti mereka dari belakang, mereka melambai-lambai dengan sukacita. Memperlihatkan barisan gigi putih di antara kulit hitam gelap mereka.
            Sebelum Shena dan teman-temannya pergi, mereka diberi bekal. Kepala desa memberikan setengah kilogram biji jagung. Beberapa warga membawakan buah-buahan, sagu, bahkan membawakan papeda dengan ikan bumbu kuning.
            “Panji, terima kasih ya. Selama kami di Papua, kamu sudah menjadi pemandu yang baik. Oya, saya belum tahu mengapa kamu mau menjadi pemandu di Papua ini? Kamu juga mahir berbahasa suku Dani.” Tanya Shena. Panji hanya tersenyum. Tidak menjawab apapun. Linda yang penasaran, juga bertanya “Iya loh, Ji. Kan wisatawan di sini tidak banyak. Mengapa kamu mau?” pertanyaan kedua ini dihiraukan oleh Panji. “Aku orang asli suku Dani. Memang kalian kaget, karena kulitku tidak segelap mereka. Aku hanya ingin semua orang mengenal sukuku dengan baik, bukan melecehkan mereka sebagai suku yang tidak beradab hanya karena mereka tidak menggunakan baju seperti kita.”
Senin, 2 September 2013
            Setelah berpisah dengan pemandu yang menggagumkan itu, aku mulai menyadari. Pengorbanan sebagai anak suku pedalaman memang luar biasa besar. Mereka tidak mau suku mereka dilecehkan. Aku memahami hal itu. Bila aku di posisinya, mungkin aku akan melakukan hal yang sama.
            Hari ini, setelah aku sampai di Kalimantan, aku harus melanjutkan perjalanan ke sungai Barito. Perjalananku kali ini, aku akan tinggal di rumah orang suku Dayak. Aku harap mereka ramah, karena aku dengar orang Kalimantan itu keras.
Rabu, 4 September 2013
            Ternyata, mereka sangat ramah. Aku diajak untuk mencari ikan di sungai. Mereka mencari ikan dengan tombak. Seperti orang gua saja. Tapi, menyenangkan sekali. Aku dan Linda tidak bisa menangkap ikan dengan tombak. Hal itu sangat aneh.
            Aku kagum pada Doni. Dia hebat sekali menggunakan tombak itu. Aku sampai pangling dibuatnya. Dia bisa menombaki 2 ikan sekaligus. Hal yang tidak  bisa aku lakukan. Mungkin dia ada keturunan orang Dayak.
            Pengalaman menangkap ikan sangat menarik bagi Shena. Ia berusaha terus untuk menombak ikan. Memang tidak bisa seperti Doni, mendapat 2 ikan sekali tangkap. Tetapi, sudah bagus kalau ia bisa menangkap satu ikan saja sekali tombak. Hatinya sangat senag sekali dengan ikan tangkapannya itu.
            Selama beberapa hari, mereka makan ikan bakar dengan keluarga kepala desa. Shena membantu memasak, Linda mengupas bumbu-bumbu yang diperlukan. Selama di sana, mereka seperti jadi anak perempuan di keluarga itu. Shena semakin betah berada di sana.
Jumat, 6 September 2013
            Hari ini aku membantu istri kepala desa unutk memasak bari atau beras. Bari dimasak dengan mempergunakan kenceng atau kukusan yang terbuat dari rotan atau bambu atau dibuat ketupat. Tapi kali ini hanya dimasak biasa dengan bambu. Kamu memasaknya di tungku.
            Aku tidak pernah memasak menggunakan tungku. Istri kepala desa-lah yang menyalakan tungku itu. Aku yang menjaga apinya supaya tetap menyala. Aku menghembuskan angin dari mulutku melalui bambu. Setelah itu, aku memperhatikan wajahku di cermin. Kagetnya bukan main. Hidungku menghitam kena abu. Satu rumah menertawai aku.
            Hari itu di rumah kepala desa ada acara syukuran. Istrinya memasak Juhu Dawen Sarentak. Itu adalah sayur kacang panjang yang dimasak dengan kuah. Lalu istri kepala desa itu juga membuat ikan kuah santan yang gurih. Hari itu semua sangat berbahagia. Shena yang beragama Kristen tidak keberatan untuk mengikuti serangkaian acara syukuran keluarga pak kepala desa yang muslim. Mereka saling bertoleransi dan menghargai.
Selasa, 10 September 2013
            Hari ini aku sampai di Madura. Kali ini, Linda yang akan menjadi pemandu kami. Berhubung ia orang madura dan ia sangat mengenal daerah-daerah di pulau yang bersebrangan dengan kota Surabaya.
            Kali ini kami tinggal di Bangkalan. Di sana orang tua Linda tinggal. Linda memang bukan orang kaya, tetapi ia senang sekali bila kami mau menginap di rumahnya. Jadi kami memutuskan unutk memenuhi permintaannya.
            Sesampainya di rumah orang tua Linda, mereka langsung disambut dengan bahasa Madura yang lucu sekali. “Loh, Linda ini sama siapa ta’iye?” ucap ayah Linda. Shena dan Doni menahan tawa mendengar logat yang seperti orang terbatah-batah itu. “Hey, kalian harus sopan. Kalau kalian tertawa bapak akan sangat tersinggung.” Ucap Linda pada kedua temannya itu.
Kamis 12 September 2013
            Beruntung sekali kami tinggal di rumah keluarga Linda. Aku memang selalu geli setiap mendengar percakapan kedua orangtua linda dengan Linda. Logat dan bahasa mereka unik. Berapa saja dibilang berempak.
            Ada lagi hal lucu lainnya. Saat kami membantu sang ayah untuk mengangkat barang-barang ayahnya yang akan dikirim ke Surabaya aku mendengar ayahnya berkata bahwa pohon itu warnanya biru. Awalnya, aku kira ayahnya buta warna. Tetapi, di Madura memang seperti itu. Warna hijau akan dikata biru dan sebaliknya. Hal ini karena sudah dibiasakan dari kecil.
            Di pelabuhan itu, aku melihat pekerja ayahnya dengan kagum luar biasa. Mereka bekerja dengan sangat cepat. Aku sempat berpikir kalau mereka adalah orang-orang super yang memang khusus ditakdirkan sebagai orang Madura. Bekerja dengan cepat. Aku juga memperhatikan betapa tempramentalnya mereka. Sedikit kata yang menyinggung saja bisa berujung perkelahian.
Jumat, 13 September 2013
            Senang sekali rasanya aku bisa terlepas dari rasa tertekanku selama di Pulau Madura. Walaupun mereka ramah, tetapi aku bisa stress kalau berada di tengah-tengah orang yang tempramen seperti mereka.
            Hari ini, aku dan teman-teman akan melanjutkan perjalanan ke Surabaya. Tetapi, sebelum kami pergi, ayah dan ibu Linda mengajak kami makan soto dan sate khas Madura. Ibunya sendiri yang membuatnya. Rasanya tidak  kalah dengan restoran bintang lima.
            Perjalanan mereka dilanjutkan dari Surabaya ke Sumatra Barat. Mereka berangkat dari Bandar Udara Juanda menuju Bandar Udara Minangkabau di Padang. Baru mereka akan melanjutkan perjalanan ke tempat selanjutnya.
            “Shen, Lin, bagaimana kalau kalian tinggal di rumah pamanku saja. Dia tinggal di daerah yang sangat kentara kebudayaan Minang. Tidak jauh dari sini. Mungkin kita butuh 6 jam perjalanan naik mobil angkutan. Bagaimana?” Doni menawarkan diri untuk mengunjungi rumahnya. Sekarang, tidak ada pilihan lagi selain berkata, “Oke kalau begitu. Tapi kamu harus jadi pemandu kami selama di daerah itu.”ucap Linda.
Senin, 16 September 2013
            Hari ini, aku sampai di rumah pamannya Doni. Kami memanggilnya Datuk. Pamannya memang salah satu orang yang dihormati di kampung itu. Saat kami tiba pun, kami disambut dengan meriah. Lalu disuguhkan berbagai makanan yang lezat.
Rabu, 18 September 2013
            Aku merasa puas sekali. Banyak hal yang aku lihat di kampung Doni yang unik dan baru. Aku tidak menyangka akan mendapatkan pengalaman baru.
            Di kampung Padang ini, aku menemukan semua anak harus belajar bahasa arab. Tidak hanya bahasa, tetapi tulisannya juga. Semuanya harus belajar, bahkan mata pelajarannya diwajibkan untuk non-muslim. Ini menarik sekali.
            Kampung Padang memang terdiri dari orang-orang suku minang yang berbahasa Melayu. Aku belajar sedikit demi sedikit berbahasa Melayu. Doni yang sangat mahir dalam berbahasa Melayu sedikit menggejekku.
            Aku dan bibi Doni memasak makanan kesukaan Datuk Soleh. Rendang pedas. Rendang itu daging yang dimasak lama sekali hingga bumbunya meresap sampai ke dalam dagingnya. Kata ‘Rendang’ sendiri punya arti masak.
            Hari itu, Datuk Soleh sedang makan sirih. Shena ditawari untuk makan sirih. Ia ingin menolak karena tahu rasanya tidak enak. Tetapi karena sungkan, ia menerima saja. “Ya Datuk boleh.” Ucap shena sungkan. “Wah, kamu makan sirih, Shen? Enak kan, nanti bisa kamu buat sendiri.” Ucap Doni menggejek Shena.
            Shena kesal sekali atas ejekan Doni. Ia meminta Datuk untuk menyuruh Doni makan sirih sama seperti dia. “Doni, sini dulu sebentar. Paman mau kamu juga makan sirih. Masa laki-laki tidak mau makan sirih. Ayo ini dimakan.” Ucap Datuk. Akhirnya Doni kena batunya juga. Ia makan sirih, dan Shena menertawainya dengan sangat.
Kamis, 19 September 2013
            Puas dan lelah menghampiriku. Jam 9 pagi tadi aku dan teman-teman harus kembali ke Jakarta. Kami harus kembali karena pekerjaan sudah menumpuk. Naskah yang diminta oleh produser juga sedikit lagi selesai.
            Datuk dan istrinya merasa senang atas kehadiran kami di rumah mereka. kami juga merasa senang. Terutama aku. Karena aku mendapatkan banyak sekali pengalaman dan cerita-cerita yang bisa aku jadikan sebagai salah satu dari skenarioku. Aku merasa sangat beruntung dalam keletihanku selama berhari-hari melakukan petualangan dadakan ini.
            Sesampainya di Jakarta, Shena langsung mendatangi produser. Ia menyerahkan skenario yang ia buat selama perjalanan yang ia lakukan. Sang produser sangat senang karena hasilnya lebih dari yang ia harapkan. Akhirnya, Shena diminta unutk memberi judul film yang akan dibuat itu dengan ‘Catatan Sang Penulis Skenario’. Ia merasa bangga atas karyanya yang satu ini. Ia belajar banyak hal tentak kebudayaan dan mendapatkan cintanya yang juga berbeda ras. Shena orang Jogja, dan Doni yang sekarang menjadi kekasihnya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar